Paulo Bento Akui Portugal Berada Di Grup Maut

Paulo Bento Akui Portugal Berada Di Grup Maut

Paulo Bento Akui Portugal Berada Di Grup Maut – Pelatih Portugal Paulo Bento mengaku kalau dirinya sulit untuk membayangkan keberadaannya di grup maut. Berada di Grup G bersama Jerman, Amerika Serikat dan Ghana, menjadi awal yang berat dalam pengalamannya sebagai pelatih di Piala Dunia.

“Inilah yang sudah terjadi,” ungkap Bento. “Ini bukanlah grup yang mudah dan saya tahu hal ini, karena empat tim memiliki kans yang sama untuk mendapatkan kepastian ke babak berikutnya.

“Bagi sebagian besar kalangan tentu menganggap Jerman akan meluncur dengan mudah, karena memang dari komposisi yang dimiliki, mereka tim terbaik. Sepertinya kemenangan bakal mudah diraih oleh mereka pada seluruh pertandingan nanti.

“Tujuan utama kami adalah menembus babak gugur, dan tentu saja ini seperti mimpi yang berharap bisa menjadi kenyataan bagi kami dan bila ini semua terwujud, kami baru memulai fokus yang jauh lebih penting sebagai langkah berikutnya.”

Ketika ditanyakan apakah Portugal membutuhkan proses adaptasi terhadap gaya permainan lawan-lawan yang akan dihadapi nanti, Bento menjawab: “Kami selalu mencoba untuk mempertahankan identitas diri kami, bahkan mengacu kepada penampilan tim lawan, dan kami siap untuk memberikan perhitungan dengan tim mana pun juga saat ini.

“Kini setelah kami mengetahui sejumlah lawan-lawan yang akan kami hadapi nanti, tentu kami bisa bekerja dengan mencari lawan setipe.

“Untuk Jerman mungkin bukan rahasia umum lagi, karena kami berada dalam satu zona, dan salah satu pekerjaan rumah yang harus kami tuntaskan dengan baik adalah mencari tim yang kualitasnya setara dan satu wilayah dengan Ghana dan Amerika Serikat, karena pemain-pemain kami juga kurang mengenal permainan lawan tersebut.”

Salah satu ganjalan utama yang akan dihadapi oleh Portugal kemungkinan besar adalah Jerman. Mengingat meski letak geografis mereka tergolong sebagai negara yang memiliki kelembaban udara ringan, namun jika bermain dalam kondisi apa pun juga, pasukan Jerman selalu siap menghadapinya.

“Saya tidak dapat melupakan kenangan buruk, saat pertandingan pertama di Piala Dunia 2002, di mana kami secara mengejutkan menelan kekalahan 3-2 dari Amerika Serikat. Ini sangat mengejutkan bagi semua pihak, termasuk saya.

“Dan Ghana tentunya ingin mengulangi kesuksesan mereka di ajang Piala Dunia 2010, saat mereka hampir saja meraih prestasi tertinggi dalam sejarah persepakbolaan Afrika dan mungkin untuk saat ini mereka yang terbaik.”

 “Sejauh ini kami belum menetapkan markas yang akan kami gunakan pada Piala Dunia 2014 mendatang. Setelah semuanya selesai, mungkin kami mulai mendapat gambaran, karena dalam tiga pertandingan nanti, kami berada di lokasi yang cukup panas (di Salvador, Manaus dan Brasilia), dan mungkin kami akan memberikannya lebih lanjut nanti.”

Mantan punggawa tim nasional Portugal itu sangat mengharapkan bahwa penduduk Brasil – yang notabene negara yang memiliki latar belakang sejarah kuat terhadap Portugis – bakal memberikan dukungan sepenuhnya kepada mereka.

“Kami berharap masyarakat Brasil akan memberi dukungan kepada kami. Karena kami telah berjuang keras untuk mendapatkan kesempatan tampil di turnamen ini, namun juga karena di gelar di sebuah negara yang memiliki hubungan istimewa di masa lampau dengan Portugis, yang kultur budayanya masih nampak hingga saat ini.”