Berita Piala Dunia Bruno Conti Legenda Sepak Bola Italia

Berita Piala Dunia Bruno Conti Legenda Sepak Bola ItaliaBerita Piala DuniaBruno Conti merupakan salah satu legenda sejati sepakbola italia. Menghabiskan karirnya di hanya satu klub membuatnya memiliki tempat tersendiri di setiap hati pendukung Roma.

Sebelum dia muncul, ada anekdot di kalangan pendukung Roma. AS Roma telah memenangkan dua gelar Scudetto, yang pertama dan juga yang terakhir. Bruno Conti merupakan salah satu pemain inti skuad Giallorossi yang membuat joke itu kehilangan relevansinya, dengan memenangkan gelar Scudetto kedua mereka. Skuad yang sama juga hanya kalah adu penalti di final saat berusaha merebut Piala Eropa. Dia juga diingat dengan peran kuncinya saat membawa Italia memenangkan Piala Dunia tahun 1982 di Spanyol. Namun semuanya tidak datang tiba-tiba – Berita Piala Dunia.

Dia lahir di Nettuno tepat di luar Roma pada 13 Maret 1955 dan bergabung dengan Roma di usia 18 tahun, melakukan debutnya di tim utama setahun kemudian di Torino. Namun Conti mengalami kesulitan menemukan posisi permanen di starting line-up AS Roma, banyak yang bilang itu disebabkan karena fisiknya yang mungil (5 kaki 6.5 inchi) dan akhirnya dia dipinjamkan ke Genoa dua kali dalam tiga tahun dan bisa bermain konsisten di Serie B.

Saat dia kembali ke klub ibukota itu, situasi berubah. Roma baru saja menunjuk Nils Liedholm sebagai manajer baru mereka dan Conti berhasil menemukan tempatnya di starting eleven AS Roma, dan dia tidak pernah mengecewakan – Berita Piala Dunia.

Di tahun yang sama dia melakukan debutnya untuk tim nasional dan mendapat empat caps di tahun 1980 itu, mencetak satu gol. Di tahun yang sama dia memenangkan trofi Coppa Italia pertamanya. Tahun itu Bruno Conti mulai dikenal di seluruh Italia. Roma memenangkan Piala di tahun berikutnya dan Conti pun ditahbiskan menjadi salah satu pemain Italia terbaik di generasinya. Tahun 1982 lah yang menjadi momen di mana dia mulai dikenal penggemar sepakbola di seluruh dunia.

Saat itu Conti sudah menunjukkan kebintangannya di Roma selama tiga tahun dan sebagai hadiahnya dia dimasukkan ke dalam skuad Piala Dunia timnas Italia yang waktu itu dibesut Enzo Bearzot. Saat itu Italia bukan menjadi unggulan karena liga domestik mereka terguncang skandal pengaturan hasil pertandingan. Skandal Totonero pada tahun 1980 itu melibatkan pemain-pemain terkenal Italia, salah satunya Paolo Rossi -Berita Piala Dunia.

Italia lolos dari fase grup pertama Piala Dunia dengan tidak meyakinkan, hanya mencatatkan tiga kali seri saat melawan Polandia, Peru, dan Kamerun. Mereka pun dikritik media-media Italia, Conti juga tidak luput dari kritikan keras pers. Bearzot pun mengambil tindakan dengan press black out, hanya dia dan kapten tim Dino Zoff yang bisa diwawancarai media. Mimpi Italia untuk memenangi Piala Dunia tampaknya sirna saat mereka mendapatkan undian bergabung di grup neraka, diisi juara bertahan Argentina dan unggulan juara Brazil.  Saat itu sistem Piala Dunia berbeda dengan sekarang, ada dua kali fase grup, di mana fase kedua ini hanya satu tim yang lolos dari masing-masing grup.

Di pertandingan pertama, mereka berhasil mengalahkan Argentina yang dipimpin Diego Maradona dengan skor 2-1, namun Conti sekali lagi gagal menunjukkan perannya dalam kemenangan itu. Pertandingan itu berjalan kasar, di mana lini pertahanan Italia menunjukkan kemampuan mereka. Laga berikut melawan Brazil lah yang mengubah segalanya – Berita Piala Dunia.

Sebelum pertandingan, tidak ada yang menjagokan Italia untuk menang. Mereka harus mengalahkan Brazil untuk bisa maju ke semi final. Saat itu Brazil merupakan tim terbaik turnamen dan didaulat sebagai salah satu tim sepakbola terbaik yang pernah ada, diperkuat Falcao, Toninho Cerezo, Zico, Eder, dan Socrates. Italia berhasil unggul dua gol berkat Rossi, hanya untuk dikejar, dengan gol kedua Brazil dicetak rekan setim Conti di Roma Falcao. Namun itu hari baik untuk Rossi, dia mencetak hat-tricknya 18 menit sebelum laga usai. Italia pun berhasil lolos ke semifinal Piala Dunia – kelima kalinya dalam sejarah mereka, dan kecepatan Conti dan skillnya di sisi lapangan memegang peran kunci – Berita Piala Dunia.

Italia berhasil mengalahkan Polandia di semifinal berkat dua gol lagi dari Rossi dan masuk final melawan Jerman Barat. Saat itu semua sudah melupakan buruknya permainan Italia di fase grup pertama. Babak pertama final di Santiago Bernabeu berakhir tanpa gol, meski Conti sempat membuat Italia mendapatkan hadiah penalti, namun Antonio Cabrini yang mengeksekusi gagal menunaikan tugasnya. Italia memulai babak kedua dengan baik, dan Rossi pun mencetak satu gol. Conti menunjukkan peran kuncinya saat gol kedua Italia oleh Marco Tardelli tercipta. Dan di gol ketiga Italia, Conti melewati bek-bek sisi kanan Jerman dari garis tengah dan melepaskan umpan silang kepada pemain pengganti Alessandro Altobelli yang tidak menyia-nyiakannya. Jerman berhasil mencetak satu gol hiburan, namun Italia lah yang menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya – Berita Piala Dunia.

Tahun berikutnya Conti memainkan peran vital dalam cerita menakjubkan lain. Dia menjadi kunci Roma dalam memenangkan Scudetto kedua dalam sejarah klub. Dengan skuad yang diisi Falcao, Agostino Di Bartolomei, dan Ruberto Puzzo, Conti bersinar, menciptakan banyak gol dan menjadi penghubung antara lini depan dan lini belakang.

Di musim berikutnya, Roma lebih sukses lagi. Meski mereka hanya menjadi runner up di Serie A, mereka berhasil memenangkan Coppa Italia. Namun kiprah mereka di Eropa lah yang membuat skuad itu menjadi sejarah. Untuk pertama kali dan terakhir kalinya hingga saat ini, Roma mencapai final sebuah ajang Eropa. Dan sesuai, saat itu final European Cup 1984 memang dihelat di Stadio Olimpico. Liverpool yang saat itu ada yang bilang merupakan tim terbaik Eropa selama sepuluh tahun terakhir menjadi lawan mereka. Hingga extra time laga masih berakhir 1-1 dengan satu gol Roma dicetak Pruzzo, dan semua pun harus ditentukan dengan adu penalti.

Berkat kaki spaghetti Bruce Grobbelaar dan Conti sendiri yang gagal mengeksekusi jatah tendangannya, satu-satunya peluang Roma memiliki trofi Eropa pun melayang. Malam itu hingga saat ini masih menghantui para fans Roma yang menyaksikan -Berita Piala Dunia.

Setelah final itu performa Roma relatif menurun, dengan hanya meraih trofi Coppa Italia saat mengalahkan Sampdoria di tahun 1986. Dan tahun itu juga lah Bruno Conti memainkan pertandingan terakhirnya bersama Azzurri, dalam pertandingan pemanasan sebelum Piala Dunia, di mana Italia mengalahkan Perancis 2-0.

Beberapa tahun terakhir karirnya, dia mulai semakin jarang  diturunkan, hanya bermain kurang dari 20 laga tiap musim. Maka dia pun memutuskan untuk gantung sepatu pada usia 36 tahun di tahun 1991.

Conti lalu menjadi pelatih di akademi sepakbola AS Roma, memenangkan dua gelar juara liga tim muda. Lalu dia sekali lagi menjadi berita di koran dengan menggantikan Luigi Del Neri sebagai manajer tim utama. Conti tidak memiliki lisensi kepelatihan, namun dihormati di klub. Dan memang sebagai juara Piala Dunia, dia tidak diharuskan mengikuti ujian kepelatihan – Berita Piala Dunia.

Rupanya Bruno Conti memang berbakat. Sebagai pelatih caretaker dia berhasil membawa Il Lupi ke final Coppa Italia dan lolos ke Piala UEFA. Dia hanya menjabat untuk waktu singkat, digantikan Luciano Spalletti. Namun Conti masih berperan di klub sebagai direktur pemain muda dan sering terlihat di sisi lapangan menyemangati tim.

304 penampilan yang dicatatkannya bersama Giallorossi di Serie A membuatnya menduduki peringkat kelima dalam jumlah penampilan terbanyak bersama Roma. Skill dribel, umpan silang, dan kecepatannya memberinya banyak fans dari seluruh dunia.

Sebagai model seorang pemain profesional Bruno Conti takkan dilupakan – Berita Piala Dunia.

Ditulis oleh Juara Piala Dunia Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke (link artikel) Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.